Kantor Pajak


Beberapa waktu yang lalu temen saya mengurus urusan perpajakan perusahaannya di sebuah kantor pajak di jakarta. Sekarang kantor pajak enak suasananya, nyaman, petugasnya ramah dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan baik. pokoke beda seperti jaman dulu. temenku bilang begitu.

Dia bilang kantor pajak sudah modern, meskipun dia ngga tahu perbedaan yang pasti antara yang dulu dan sekarang. Tapi yang dia rasakan lebih baik pelayanannya.

Tentang zaidanzidna

learn together
Pos ini dipublikasikan di Tentang Pajak. Tandai permalink.

5 Balasan ke Kantor Pajak

  1. DIAZ berkata:

    tolong kantor pajak di jatinegara birokrasinya diperlancar jangan di belit2, kami kan bayar pajak ok

  2. zaidanzidna berkata:

    halo pegawai kpp jatinegara ada unek2 nih tentang pelayanan di kantor saudara yang masih kurang baik kata diaz

  3. Paijo berkata:

    Sebagai seorang wajib pajak yang telah memiliki NPWP dan selalu membayar cicilan PPH 21 on time, saya merasa tidak terlayani dengan baik. Pasalnya, setiap tahun musti mengisi SPPT atau apalah namanya yang menyita banyak waktu dan pikiran tapi menurut saya mubazir. Jelas mubazir karena admin di kantor saya sudah menghitungkan segala tetek-bengek penghasilan dan pajak saya dan pajaknya sudah disetor sejumlah dan pada waktu yang semestinya. Jadi pada waktu SPPT saya terima, pajak terhutang saya sudah nol ( lunas ). Alasan untuk mengisi SPPT juga klise katanya self asessment, padahal sudah dihitung dan disetor oleh admin. Lagi pula, karyawan seperti saya kan tidak ada peluang untuk mangkir dari kewajiban membayar pajak, dan juga tidak tertarik untuk berurusan dengan kantor pajak yang hanya buang-buang waktu percuma karena kewajiban saya ( membayar pajak ) sudah saya laksanakan. Mendingan kantor pajak tinggal terima laporan dari admin kantor saya saja, lebih praktis kan. Kalau mau pakai SPPT seperti yang sekarang ya mustinya rinciannya diprint saja di kantor pajak, baru kemudian dikirim ke wajib pajak untuk ditandatangani, mudah kan. Kalau ternyata kantor pajak kekurangan sarana untuk itu, itu sih namanya abu nawas yang mau uangnya tapi gak mau keluar biaya, ya nggak. Terus terang, soal ngisi SPPT tersebut selalu bikin kesal saya ( karyawan ) setiap tahun dan itu menunjukkan buruknya sistem di negara kita yang tidak efisien. Kalau untuk wajib pajak yang bukan karyawan sih, SPPT masih diperlukan. Kesimpulan saya, orang perpajakan sendiri tidak ngeh dengan semangat self asessment, akhirnya pukul rata seenak wudele dewe karena gak mau repot. Jadi, saya bangga telah membayar pajak, tapi saya jengkel dengan pelayanan perpajakan. Lha wong mau kasih uang ke kas negara saja kok dibikin repot, yang harus dibikin repot itu kan mestinya orang yang mau pakai uang negara, dasar Indonesia.
    Bagaimana menurut anda, tolong beri penjelasan yang logis ( tidak melulu mengacu ke undang-undang semata ). Terimakasih dan salam eksperimen.

  4. Paijo berkata:

    Lho, coment saya tgl 20 Sept kok belum dimoderasi pak ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s