Angsuran pph 25


 DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIADIREKTORAT JENDERAL PAJAK 

 

 

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK

NOMOR : KEP -   62  /PJ./2005 

 

TENTANG 

 

ANGSURAN BULANAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 TAHUN 2005 SEHUBUNGAN DENGAN PENYESUAIAN BESARNYAPENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK 

 

 

DIREKTUR JENDERAL PAJAK, 

 

Menimbang   :     a.    bahwa  sehubungan  dengan  dikeluarkannya  Peraturan  Menteri  Keuangan Nomor 564/KMK.03/2004 tentang Penyesuaian Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak maka perlu diatur lebih lanjut mengenai aturan pelaksanaannya;

b.   bahwa besarnya angsuran pajak dalam tahun berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak sedapat mungkin mendekati keadaan yang sebenarnya;

c.   bahwa  sehubungan dengan hal tersebut di atas dan untuk memberikan kejelasan kepada Wajib Pajak dalam memahami dan memenuhi kewajiban perpajakannya,  maka dipandang perlu  menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak tentang Angsuran Bulanan Pajak Penghasilan Pasal 25 Sehubungan dengan Penyesuaian Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak;

 

 Mengingat    :    1.    Undang-undang  Nomor  6  Tahun  1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 126; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3984);2.        Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 127; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3985);3.        Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 564/KMK.03/2004 tanggal 29 November 2004 tentang Penyesuaian Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak; 

 

MEMUTUSKAN: 

Menetapkan  :     PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TENTANG ANGSURAN BULANAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 TAHUN 2005 SEHUBUNGAN DENGAN PENYESUAIAN BESARNYA PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK. 

Pasal 1

 

(1)   Wajib Pajak Orang Pribadi dapat mengajukan permohonan pengurangan besarnya angsuran bulanan Pajak Penghasilan Pasal 25 sehubungan dengan perubahan Penghasilan Kena Pajak yang dihitung dengan menggunakan Penghasilan Tidak Kena Pajak yang telah disesuaikan sebagaimana diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 564/KMK.03/2004.(2)   Permohonan pengurangan besarnya angsuran bulanan Pajak Penghasilan Pasal 25 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan setelah 1 (satu) bulan sejak batas akhir waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan.  (3)   Permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diajukan secara tertulis kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar dengan disertai fotocopy Surat Pemberitahuan Tahunan PPh 1770 atau 1770 S Tahun 2004 berikut tanda terima SPT Tahunan dan daftar susunan keluarga yang menjadi tanggungan wajib pajak.(4)   Apabila dalam jangka waktu 1 (bulan) sejak tanggal diterimanya surat permohonan Wajib Pajak secara lengkap sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), Kepala Kantor Pelayanan Pajak tidak memberikan keputusan, maka permohonan Wajib Pajak tersebut dianggap disetujui dan Wajib Pajak dapat melakukan pembayaran angsuran bulanan Pajak Penghasilan Pasal 25 sesuai dengan penghitungannya untuk bulan-bulan yang tersisa dari tahun pajak yang bersangkutan. 

Pasal 2

 

(1)   Besarnya angsuran bulanan PPh Pasal 25  yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak Orang Pribadi untuk bulan-bulan sebelum bulan waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan sama dengan besarnya angsuran pajak untuk bulan terakhir tahun pajak yang lalu.(2)   Besarnya angsuran bulanan PPh Pasal 25  yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak Orang Pribadi untuk bulan-bulan setelah bulan waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tetapi sebelum permohonan pengurangan angsuran disetujui atau dikabulkan karena lewat waktu sama dengan besarnya angsuran pajak menurut Surat Pemberitahuan Tahunan yang telah disampaikan tersebut. (3)   Besarnya angsuran bulanan PPh Pasal 25  yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak Orang Pribadi untuk bulan-bulan setelah permohonan pengurangan angsuran disampaikan, sama dengan besarnya angsuran pajak menurut Surat Keputusan Pengurangan Angsuran Bulanan PPh Pasal 25 yang disetujui oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak atau menurut penghitungan Wajib Pajak apabila permohonan pengurangan tersebut telah lewat waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (4) di atas. 

Pasal 3 

Peraturan ini hanya berlaku dalam masa peralihan sehubungan dengan penyesuaian Penghasilan Tidak Kena Pajak, sehingga pengajuan permohonan pengurangan angsuran bulanan PPh Pasal 25 setelah masa peralihan ataupun karena sebab umum lainnya harus dilakukan sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada Keputusan Direktur Jenderal Pajak nomor KEP-537/PJ./2000 tanggal 29 Desember 2000 dengan tetap memperhatikan penyesuaian Penghasilan Tidak Kena Pajak. 

 

Pasal 4 

Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. 

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik
Indonesia.
 

 

 Ditetapkan di Jakarta pada tanggal    14   Maret    2005    DIREKTUR JENDERAL, 

 

 

                                                                        HADI POERNOMO

NIP 060027375

 


LAMPIRAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAKNOMOR : KEP -    62    /PJ./2005TANGGAL:    14  MARET  2005 

 

 

CONTOH PENGHITUNGAN ANGSURAN BULANAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 TAHUN 2005 YANG DIGUNAKAN SEBAGAI DASAR PERMOHONAN PENGURANGAN ANGSURAN BULANAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 

Tata cara penghitungan sebagai dasar untuk permohonan pengurangan angsuran PPh Pasal 25 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 adalah sebagai berikut : 

a.       Seorang Wajib Pajak dengan status K/2 mempunyai angsuran PPh Pasal 25 untuk masa pajak Desember 2004 sebesar Rp 100.000,00.b.      Wajib Pajak tersebut pada tanggal 21 Februari 2005 memasukkan SPT Tahunan untuk tahun 2004 dengan data sbb :Penghasilan Neto untuk tahun 2004 sebesar Rp 50.000.000,00. Kredit Pajak yang dipotong/dipungut pihak lain (PPh pasal 21,22,23, dan 24) sebesar Rp 1.230.000,00 dan kredit pajak yang dibayar sendiri (PPh Pasal 25) sebesar Rp 1.200.000,00.Perhitungan dalam SPT Tahunan tahun 2004 adalah sebagai berikut :- Penghasilan Neto                                                             = Rp    50.000.000,00- Penghasilan Tidak Kena Pajak      Diri Sendiri                               = Rp    2.880.000,00      Kawin                                      = Rp    1.440.000,00      2 Tanggungan                           = Rp    2.880.000,00                                                                                                        = Rp      7.200.000,00 _- Penghasilan Kena Pajak                                                               = Rp    42.800.000,00- PPh Terutang      5% X Rp 25.000.000   ,00       = Rp    1.250.000,00      10% X Rp 17.800.000,00        = Rp    1.780.000,00                                                                                                      = Rp      3.030.000,00- PPh Dipotong/dipungut pihak lain                                     = Rp      1.230.000,00 _- PPh Yang Harus Dibayar Sendiri                                      = Rp      1.800.000,00- PPh Dibayar Sendiri                                                                     = Rp      1.200.000,00 _- PPh Kurang Bayar (PPh Pasal 29)                                               = Rp         600.000,00- Angsuran PPh Pasal 25 berdasarkan SPT Tahunan tersebut adalah sebesar :            Rp 1.800.000,00          = Rp 150.000,00                        12 

c.       Wajib Pajak tersebut pada tanggal 11 Mei 2005 mengajukan permohonan pengurangan besarnya angsuran PPh Pasal 25 untuk tahun 2005  berdasarkan Penghasilan Tidak Kena Pajak / PTKP yang disesuaikan, dengan perhitungan sebagai berikut :- Penghasilan Neto                                                             = Rp    50.000.000,00- Penghasilan Tidak Kena Pajak      Diri Sendiri                               = Rp    12.000.000,00      Kawin                                      = Rp      1.200.000,00      2 Tanggungan                           = Rp      2.400.000,00                                                                                                        = Rp    15.600.000,00 _- Penghasilan Kena Pajak                                                               = Rp     34.400.000,00- PPh Terutang      5% X Rp 25.000.000   ,00       = Rp    1.250.000,00      10% X Rp 9.400.000,00          = Rp       940.000,00                                                                                                      = Rp       2.190.000,00- PPh Dipotong/dipungut pihak lain                                     = Rp       1.230.000,00 _- PPh Yang Harus Dibayar Sendiri                                      = Rp          960.000,00- PPh Pasal 25 yang telah disetor*)                                     = Rp          550.000,00 _- PPh Pasal 25 yang masih harus dibayar                                         = Rp          410.000,00Sehingga angsuran PPh Pasal 25 berdasarkan perhitungan permohonan pengurangan sebesar :            Rp 410.000,00 = Rp 51.250,00                        8**)Atas permohonan pengurangan angsuran PPh Pasal 25 tersebut, Kepala Kantor Pelayanan Pajak pada tanggal 19 Mei 2005 memberikan keputusan persetujuan atas permohonan Wajib Pajak.  

Berdasarkan contoh penghitungan angsuran di atas, maka angsuran PPh Pasal 25 untuk tahun 2005 atas Wajib Pajak tersebut adalah sebagai berikut :1.      Besar angsuran PPh Pasal 25 untuk bulan-bulan sebelum bulan waktu penyampaian SPT Tahunan, yaitu masa pajak Januari 2005 adalah sama dengan angsuran masa pajak Desember 2004 yaitu sebesar Rp 100.000,002.      Besar angsuran PPh Pasal 25 untuk bulan-bulan setelah bulan waktu penyampaian SPT Tahunan sebelum permohonan pengurangan angsuran disetujui, yaitu untuk masa pajak  Pebruari, Maret dan April 2005 adalah sebesar angsuran berdasarkan SPT Tahunan 2004 yaitu sebesar Rp 150.000,003.      Besar angsuran PPh Pasal 25 setelah permohonan pengurangan disetujui, yaitu mulai masa pajak Mei sampai dengan Desember 2005 adalah sebesar angsuran yang disetujui oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak yaitu sebesar Rp 51.250,00 

Keterangan :*)  PPh Pasal 25 yang telah disetor untuk masa pajak Januari 2005 sampai dengan April 2005 yaitu sebesar Rp550.000,00 (Rp100.000,00 + Rp150.000,00 + Rp150.000,00 + Rp150.000,00).**) Bulan yang tersisa dari tahun pajak yang bersangkutan yaitu 8 bulan (12 bulan dikurangi bulan Januari, Pebruari, Maret, April). 

About these ads

Tentang zaidanzidna

learn together
Tulisan ini dipublikasikan di KEP DIRJEN. Tandai permalink.

23 Balasan ke Angsuran pph 25

  1. Emiwati berkata:

    kenapa tarif ptkp yang lama digunakan dalam soal a, sedangkan soal yang c menggunakan tarif ptkp yang baru?Kenapa tarif ptkp yang baru WP Pribadi Rp.12.000.000,- bukan Rp. 13.200.000,- berapa tarif ptkp yang baru?

  2. zaidanzidna berkata:

    ma kasih emiwati,
    kalau emiwati perhatikan soal kasusnya, khususnya pada kapan terjadinya akan tahu. ptkp yang baru mulai berlaku per 1 januari 2006 sebesar 13.200.000. sedangkan soal soal diatas pada tahun 2005 jadi kita harus ngikuti aturannya, karena sebelum 1 januari 2006 yah ptkpnya masih 12.000.000.

    gitu mba emawati.
    semoga jawabannya memuaskan

  3. wahyu berkata:

    saya mu nanya pda thun 2007 saya tersaftar di pajak krna mepunyai usaha toko klontongan selam dri tahun 2007 saya tiap mlaporkan denagn nilai uang Rp. 0 ( nihil ), dan skrang sudah 1 thun dan di bln mrt 2008 skrang harus menyerahkan spt thunan dan saya tidak cara membuat laporan tahunan, tp yang saya tau ada 2 cra yaitu dgan cara pembukuan atau norma. krna saya tdak mengunakan pembukuan jadi saya mengunakan norma, yang saya tanyakan bagaimanana cara pehitungan nya, status saya kawin dgan 3 tangunagn, dan panghasilan bruto tahun 2007 sbesar Rp. 124.000.000,-.

  4. zaidanzidna berkata:

    Dengan omzet sebesar rp 124 juta maka mas Wahyu dapat menggunakan norma penghitungan dalam pelaporan spt tahunan nya. Untuk wilayah dki jakarta persetase penghasilan neto usaha kelontong sebesar 30%. maka penghasilan neto yang dilaporkan pada spt sebesar 30% dikalikan 124 juta.

    sedangkan ptkp untuk kawin dengan tiga tanggungan adalah:
    diri sendiri 13.200.000
    status kawin 1.200.000
    tanggungan (3) 3.600.000
    jumlah 17.800.000

    atau dapat saya jelaskan sebagai berikut:

    Penghasilan neto 37.200.000
    biaya jabatan 5% 1.860.000
    35.340.000
    dikurangi
    PTKP (K/3) 17.800.000
    PKP 17.540.000
    PPh terutang
    5% X 17.540.000 =877.000

    PPh 25 per bulan 877.000/12 = 73.083

    semua pencatatan penghasilan selama setahun harus tetap di simpan, sebab suatu saat dibutuhkan.

  5. Vina berkata:

    Saya mau tanya status saya belum menikah, saya mau ambil KPA dari bank BTN dan salah satu syaratnya harus punya NPWP, perusahaan saya bekerja tidak pernah membuatkan NPWP untuk karyawannya. Nah kalo saya mau buka NPWP sendiri dengan gaji saya 3jt/bln dan angsuran dari cicilan Apartemen saya 1.6jt/bln bagaimana cara hitungan SSP dan SPT? dan berapa persen saya harus bayarkan dari gaji saya? apakah punya NPWP sangat merepotkan? Thanks…

  6. zaidanzidna berkata:

    mba Vina,

    Mempunyai NPWP dapat bermanfaat bagi Mba Vina, terutama terkait dengan beberapa persyaratan seperti yang di alami di atas. Dengan mempunyai NPWP berarti mba Vina secara tidak langsung menjalankan kewajiban sebagai warga negara yang baik. Tentu saja dengan ber NPWP maka mba Vina akan diminta sedikit untuk melaporkan spt tahunan yang disampaikan tiap tahun.

    Dengan penghasilan 3 juta per bulan yang berarti setahun 36 juta berarti penghasilan tersebut sudah melebihi PTKP yang sebesar 1.1 juta per bulan, jika sudah memiliki npwp maka mba Vina melaporkan SPT tahunan dengan Form 1770 SS, karena penghasilan mba Vina masih di bawah 48 juta setahun.

    Form 1770 SS hanya perlu mengisi identitas, jumlah harta yang dimiliki dan jumlah hutang yang dimiliki. Bener2 simple. sesuai dengan nama SS pada form itu yang berarti Sangat Sederhana. dilampiri dengan form 1721 yang diperoleh dari perusahaan. dan karena gaji mba Vina sudah dipotong oleh perusahaan, maka otomatis tidak ada pajak yang harus dibayar lagi pada saat melaporkan spt tahunan tersebut.

    Ini sebuah saran tentang KPA.
    mba Vina coba nonton acara yang dipandu oleh Charles Bonar Sirait bersama Mas Aidil Akbar pada acara yang bertopik tentang perencanaan keuangan. di stasiun tv o chanel. bisa bertanya apa dengan penghasilan 3 juta dan harus menanggung beban cicilan lebih dari lima puluh persen penghasilan adalah keputusan yang tepat? ditambah cost lain di apartemen yaitu adanya biaya service charge per bulan?

    semoga bermanfaat.

  7. Zaky berkata:

    Bagaimana dengan keterangan ini…???knp ada perbedaan point No. 2..??? saya kutid dari: http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/01/12/spt-tahunan-pajak-penghasilan-wajib-pajak-orang-pribadi-1770-ss/
    SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi 1770 SS

    Saturday, 12 January 2008
    SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi 1770 SS
    Tidak hanya rumah saja yang punya tipe bervariasi seperti tipe mewah, sederhana, atau sangat sederhana, kini dengan dikeluarkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor: PER-161/PJ/2007 tanggal 14 Nopember 2007 tentang SPT Orang Pribadi Sangat Sederhana Tahun 2007, maka jenis Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) juga bervariasi. Ada SPT Tahunan WPOP 1770, lalu ada yang ditambah satu S dibelakangnya, dan kini dengan peraturan terbaru tersebut ada dobel S dibelakangnya, yaitu SPT 1770 SS.
    Ya, peraturan ini dikeluarkan dengan pertimbangan dalam rangka meningkatkan pelayanan dan memberikan kemudahan bagi WPOP yang memperoleh penghasilan sampai dengan jumlah tertentu. Jadi tidak semua WPOP yang menggunakan formulir bentuk ini. Lalu siapa mereka?
    Peruntukkan SPT Tahunan WPOP 1770 SS ini adalah bagi:
    1. WPOP—entah itu karyawan swasta atau PNS—yang mempunyai penghasilan hanya dari satu pemberi kerja (ingat hanya dari satu saja pemberi kerja);
    2. WPOP yang mempunyai penghasilan bruto dari pekerjaan tersebut tidak melebihi Rp30.000.000,00 setahun;
    3. WPOP tersebut tidak mempunyai penghasilan lain kecuali penghasilan bunga bank dan atau bunga koperasi. Jadi syarat diatas adalah syarat akumulatif bukan alternatif. Bila tidak terpenuhi salah satunya maka ia tidak boleh menggunakan SPT bentuk ini.
    Misalnya, Pak Husin ini pegawai PT Kungfu Hustle Indonesia. Dia cuma bekerja di situ sebagai manajer keuangan. Gaji kotor sebulannya sebesar Rp5.000.000,00. Dan setiap ada sisa gaji setelah dipotong kebutuhan bulanannya ia tabung di suatu bank ternama. Lalu dari hasil tabungannya ia mendapatkan bunga.
    Dari kasus tersebut walaupun dia memenuhi dua syarat di atas, yaitu syarat nomor satu dan tiga, tetapi ia tidak boleh menggunakan formulir SPT Tahunan WPOP 1770 SS karena dia tidak memenuhi syarat yang kedua sebab total penghasilan setahunnya sebesar Rp60.000.000,00. Jadi ia harus menggunakan SPT Tahunan WPOP 1770 S (S-nya cuma satu) yaitu SPT yang diperuntukkan bagi WPOP yang tidak melakukan kegiatan usaha/pekerjaan bebas.
    Lalu peraturan terbaru ini mengatur apa saja?
    1. SPT Tahunan WPOP 1770 SS itu harus dilampirkan dengan bukti potong Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 Formulir 1721-A1 atau Formulir 1721-A2 yang merupakan bagian tak terpisahkan dari SPT Tahunan WPOP 1770 SS;
    2. Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan yaitu tanggal 14 Nopember 2007 dan diberlakukan untuk pengisian SPT Tahunan WPOP Tahun 2007.
    Lalu adakah ketentuan lainnya?
    Ya, sebagaimana jenis SPT WPOP lainnya, SPT Tahunan WPOP 1770 SS ini juga punya aturan yang tidak boleh diabaikan oleh Wajib Pajak, yaitu:
    1. Wajib Pajak harus mengisinya dengan benar, lengkap, jelas dan menandatanganinya;
    2. Wajib Pajak harus mengambil sendiri formulir tersebut dan menyampaikannya paling lambat 3 bulan setelah tahun pajak berakhir. Tapi biasanya sebagai bentuk pelayanan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) mengirimkan formulir tersebut ke alamat WPOP terdaftar. Tapi untuk jaga-jaga bila sampai akhir Pebruari 2008 belum juga mendapatkannya, maka kita harus mengambilnya langsung di KPP WPOP terdaftar sebagai Wajib Pajak. Ingat formulir ini GRATIS dan tidak dipungut biaya sepeserpun untuk mengambilnya.
    3. Apabila SPT tidak disampaikan dalam jangka waktu yang ditetapkan atau dalam batas waktu perpanjangan penyampaian SPT Tahunan, dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp100.000,00; Bentuk formulirnya sangat sederhana sesuai dengan klaimnya. Cuma setengah halaman belaka. Dan Anda bisa mengunduh formulirnya di menu download pada blog saya ini atau di sini atau di sini (Saya sambungkan dengan file yang ada di blog Triyani).
    Ya, cukup di sini uraian saya ini. Semoga mencukupi. Bila ada sesuatu yang perlu dipertanyakan, silakan untuk jangan sungkan-sungkan bertanya kepada saya.Karena bagi saya ILMU PAJAK ITU KUDU DIBAGI GRATIS BUAT ANDA.
    Riza Almanfaluthi
    dedaunan di ranting cemara
    12:25 PM 03 Muharram 1429 H
    12 Januari 2008

  8. fendi berkata:

    Halo pak saya mau tanya. status kerja saya adalah tidak tetap (free lance) tanpa gaji hanya komisi kadang2 ada, kadang2 tidak ada. ibarat pepatah “Maju tak gentar membela yang bayar”.
    1.Apakah saya harus buat NPWP karena saya berencana akan KPR ? 2.Bagaimana status NPWP nya dan harus diisi apa status usahanya? dan termasuk pph pasal berapa? apabila saya harus buat? Bingung oeiii.
    3. Istri saya bekerja di pt.swasta dan udah ada SPT tapi ktnya blm ada NPWP. pihak kantornya menyuruh agar suami (saya) yg hrs buat NPWP? atau cukup istri saya saja.
    Saya sangat bingung karena dari pihak kantor dari pihak istri menyarankan saya (suami) alasannya laporannya akan double, dan dari pihak saya menyarankan agar tidak buat. cukup minta NPWP kantor istri utk KPR. Bagaimana pak tolong penjelasannya?

  9. Betsy berkata:

    Hi,
    saya mau tanya, bulan lalu saya saya mendaftarkan diri secara online untuk dapat mempunyai npwp pribadi. Saya sendiri adalah pegawai swasta. Di dalam pengisian form online, saya memilih “karwayan yang tidak mempunyai pekerjaan di luar”. tetapi saya terkejut ketika hasil dr NPWP sementara menyebutkan pajak yang saya tanggung adalah PPH 25. Setahu saya itu untuk badan usaha. Apakah saya harus registrasi ulang atau bagaiman? saya sudah lapor ke kantor pajak, dan mereka mengatakan kalau memang saya hrs membayar PPH25 bukan PPH 21. Apakah akibatnya nanti terhadap penghasilan saya?

    Terima kasih

  10. agung berkata:

    Betsy Berkata
    Oktober 7, 2008 pada 2:43 am …

    Kasus saya sama dengan yg di atas…mohon pencerahannya

    terima kasih

  11. agung berkata:

    kok…nggak di jawab yach..please……

  12. anti berkata:

    kasus saya juga sama, tolong jawabannya

  13. ilo berkata:

    sama , saya juga digolongkan ke PPH 25 bukan 21.
    Kenapa ya? Sudah telpon ke kring pajak, jawabannya dimasukkan ke situ karena pajak saya ngga langsung dibayar kantor, jadi masuk ke 25 bukan 21???

  14. Ardi berkata:

    Saya bekerja dibidang konsultansi SDM (saya isi pada formulir pandaftaran NPWP), tetapi pada surat keterangan terdaftar disebutkan KLU saya adalah 74200-jas konsultansi arsitek, kegiatan teknik dan rekayasa, serta analisis dan testing. Pertanyaan saya:
    – Apakah hal ini berpengaruh pada pembayaran pajak?
    – Apabila ada penggantinya (jenis KLU), bagaimana cara penggantiannya
    mohon jawabannya.

    Ardi

  15. zaidanzidna berkata:

    penomoran KLU tidak mempengaruhi pembayaran pajak saudara.

    berdasarkan KLU tahun 2003 memang belum ada kelompok dibidang konsultasi SDM, maka waktu saudara mendaftar dikelompokkan pada 74200.

    ada klu 74990 untuk menampung jenis jasa yang belum terklasifikasikan kalau anda mau menggantinya.

    anda dapat mengajukan ke KPP sewaktu anda mendaftar.

  16. Elsis berkata:

    Masalah saya sama dengan Betsy, Anti, Agung dan Ilo. Saya baru mendaftar secara online bulan Desember 2008. Mohon bantuan penjelasannya. Terima kasih.

  17. shanti berkata:

    saya minta tolong,bagaimana penghitungan spt orang pribadi,dengan penghasilan per tahun Rp 99.250.0000 untuk jualan alat tulis,punya istri dan dua orang anak,terima kasih

  18. dirantingcemara berkata:

    Silakan konsultasi di sana. :-)

  19. Han berkata:

    Kasus saya kurang lebih sama dengan Betsy, Anti, Agung ,Ilo dan Elsis. Ditambah lagi, mulai tahun 2009 saya kerja di Perusahaan yg memungut pph 21. Terus, bagaimana dengan angsuran pph 25 yg terlanjur saya bayar, gara-gara di tahun-tahun lalu pajak saya ga langsung dibayarkan kantor? Kan jadinya lebih bayar ya? Bingung nih……………….

  20. gilang berkata:

    DImana saya menemukan nomer KLU di form 1721-A1 ??

  21. Ferry berkata:

    saya mau penjelasan singkat mengenai PPH 25 dan PPH 29 itu apa sih? Sejak Juni 2008 saya berhenti bekerja dan saat ini hanya tenaga free lance itu pun tidak setiap bulan. bagaimana saya mengisi SPT saya

  22. Han berkata:

    Minggu lalu saya lapor SPT. Saya tetap pakai form 1770S, karena pegawai swasta. Hanya saja, saya lampiri “Surat Keterangan” yang menyatakan bahwa saya pegawai swasta dimana toko yang mempekerjakan saya tidak memotong pph, jadi pph saya hit dan setor sendiri.
    Cara ini saya lakukan setelah tanya ke salah satu KPP, anehnya jawaban di tiap2 KPP sewaktu saya tanyakan masalah saya tidak ada yang sama. Jadi tambah bingung nih. Akhirnya jawaban ini yg menurut saya paling masuk akal, jadi saya coba lakukan. Semoga langkah ini benar.

  23. Dendy berkata:

    Saat ini status saya pegawai, memiliki NPWP, dan pajak selalu dibayar oleh kantor dengan cara memotong dari pendapatan saya tiap bulan.
    Dan saya mengambil KPR di Bank.
    Yang ingin saya tanyakan :
    1) Apakah bisa saya mengurangi pajak akibat adanya KPR itu?
    2) Bila (1) bisa, bagaimana caranya?
    3) Bila (1) bisa, sedangkan saya sudah mengambil KPR dari Juni 2009, apakah bisa saya tarik kembali Pajak yang saya bayarkan pada thn 2009 akibat KPR tersebut.

    Terima kasih atas pencerahaannya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s